MENJADI ORANG TUA TUNGGAL YANG TANGGUH

MENJADI ORANG TUA TUNGGAL YANG TANGGUH
Mawar

Yang menjadi penguat bagi saya adalah Filipi 4:13. Karena saya memilih menjadi pelaku dan bukan korban, maka saya perlu kekuatan, dan kekuatan itulah yang saya terima dari Dia.

Saya menjadi single parent dengan satu anak laki-laki pada tahun 1976. Waktu itu saya protes pada diri sendiri. Itu reaksi normal, ya. Saya kira kalau suami kita diambil orang dan kita oke saja, itu malah tidak normal. Waktu itu saya belum kenal Tuhan Yesus. Saya merasa hidup saya pahit, penuh dengan perasaan mengasihani diri sendiri. Tapi tiga tahun setelah menjadi single parent, saya mengenal Tuhan Yesus. Sebelumnya saya bukan orang Kristen sehingga betul-betul saya tidak tahu siapa Yesus. Sekalipun saya belum mengenal Yesus, saya tahu ada Tuhan Yang Maha Esa, yang mengasihi saya.

Dalam tiga tahun itu saya hanya berpikir begini, “Kalau rumahtangga saya sudah hancur, masa iya, anak yang diberikan Tuhan ini akan kuhancurkan juga! Apakah saya hanya mengasihani diri sendiri dan tidak mempedulikan anak ini, kemudian membiarkan dia tumbuh liar dan akhirnya hancur semua?” Saya hanya mempunyai pengertian bahwa Tuhan akan mengajarkan sesuatu pada saya walaupun saya tidak tahu bahwa Tuhan itu Yesus. Jadi yang menggerakkan saya adalah karena saya sudah sendiri, saya harus bertanggung jawab pada anak ini. Anak ini harus berhasil. Karena itu saya harus kuat. Tapi untuk menjadi kuat itu, Tuhan mengambil alih keadaan.

Tiga tahun tanpa Kristus, saya menutup ’gorden’ terus karena saya malu. Usia saya waktu itu baru 29. Kalau pagi saya tidak berani memunculkan diri. Baru malam hari saya keluar untuk kuliah. Dulu saya kuliah di Fakultas Teknik sampai tingkat IV, kemudian menikah. Jadi, sekolah tidak selesai. Waktu anak saya umur 4 tahun, saya kuliah lagi di Fakultas Sastra. Saya melihat Tuhan sudah memberikan pengetahuan baru. Insinyur tidak tercapai, tapi jadi sarjana sastra harus. Saya sudah kehilangan papinya, jangan sampai kehilangan kesempatan yang baik yang Tuhan sudah sediakan. Saya mengerti perasaan seorang wanita Samaria, yang ditinggalkan suami itu, pasti dia sangat malu. Umur saya 29 tahun. Seolah-olah saya ini begitu buruknya sehingga saya dikalahkan oleh wanita lain. Ada perasaan itu. Maka saya menutup gorden selama tiga tahun.

Tetapi waktu tahun 1979 saya mengenal Kristus, yang pertama saya buka adalah ’gorden’. Dengan begitu matahari terasa cerah, hati cerah, gembira, nyanyi terus tiap hari. Ini modal untuk mengangkat saya. Kepercayaan diri saya timbul, sekolah saya juga lebih sukses dari sebelumnya. Sukses dalam arti selalu lulus dalam ujian, padahal seharusnya hancur. Tuhan sudah mengambil alih.

Menjadi Orangtua Tunggal adalah Panggilan

Menjadi single parent bagi saya bukan terjadi karena terseret keadaan, tetapi suatu niat. Bukan berarti saya senang. Tidak ada orang yang menikah dengan tujuan menjadi orangtua tunggal. Ini suatu keadaan yang tidak kita harapkan, tapi kemudian akhirnya terjadi. Banyak gangguan-gangguan dari dunia yang menyebabkan kita menjadi single parent. Tapi kalau itu terjadi, yang harus kita ubah adalah sikap mental kita. Kita jangan bersikap sebagai korban, melainkan pelaku. Sikap mental saya berubah saat saya menyadari bahwa saya dipanggil Tuhan menjadi seorang single parent.

Setelah menjadi single parent dalam pejalanan hidup yang banyak bunga rampainya ini, saya coba melihat bagaimana sih sebenarnya menjadi single parent sehingga saya merasa enjoy saja selama ini. Ada yang istimewa dalam fungsi single parent, yaitu tugas pokok orangtua yang harusnya dilaksanakan oleh dua orang, yaitu ayah dan ibu, sekarang dilakukan oleh satu orang. Bagi saya, ini istimewa karena sekarang saya menjadi pelaku, bukan korban. Untuk bisa menjadi orangtua (parent) dibutuhkan dua orang. Tetapi setelah menjadi orangtua tunggal, segala masalah ditanggung sendiri dan hasilnya harus sama baiknya dengan kalau dilaksanakan oleh dua orang. Ini istimewanya.

Yang menjadi penguat bagi saya adalah Filipi 4:13. Karena saya memilih menjadi pelaku dan bukan korban, maka saya perlu kekuatan, dan kekuatan itulah yang saya terima dari Dia. Ada tugas pokok orangtua yang dulu suami istri yang harus kerjakan dan sekarang hanya seorang saja yang mengerjakannya. Tugas itu saya jabarkan dalam satu pengertian yang utuh yaitu mengantarkan anak sebagai generasi muda bangsa memasuki dunia dewasa yang penuh di dalam terang Tuhan Yesus Kristus. Saya memakai kata bangsa, karena anak kita haruslah menjadi asset bangsa. Artinya, anak yang kita didik itu hendaknya menjadi orang yang berperan aktif dalam masyrakat untuk membangun negara.

Saya dibekali dengan Maz. 127:1-5; 144:12. Intinya Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa saya adalah orangtua tunggal yang harus berjuang, bergumul dengan masalah saya sendiri, tapi harus bisa tampil dengan gagah di depan anak. Dengan kondisi itu Tuhan memberikan kepada saya anak yang sangat berharga. Karena itu sangat berharga, ada tanggung jawab yang dituntut dari saya oleh Tuhan, dan itu harus saya jawab.
Tugas pokok di atas, saya jabarkan lagi dalam tiga tugas yang sudah populer yaitu Asih, Asah, Asuh. Asih berarti mengasihi dan memperhatikan terus-menerus. Mengasuh (asuh) sejak masih kecil dalam tahap perkembangannya dengan teknik yang sesuai; kemudian mengasah, mendidik, mulai dari kecil sampai selesai pendidikan.

Kebutuhan Keluarga Dengan Orangtua Tunggal

Saya renungkan keadaan yang meliputi rumahtangga kami. Saya pikir-pikir, sekalipun rumahtangga itu sudah tidak lengkap, rumahtangga ya tetap rumahtangga. Artinya kehidupan rumahtangga tetap jalan terus. Walaupun salah satu fungsi orangtua tidak ada, tugas orangtua tetap jalan terus. Saya harus membuat rumahtangga yang sekarang tidak lengkap ini, berjalan terus dengan stabil. Maka saya mencari, mencari, mencari.

Ada lima hal yang saya catat.

1. Menyadari pentingnya fungsi ayah kandung dalam kehidupan anak.

Walaupun ayah kandung ini tidak berfungsi aktif, tapi saya menyadari bahwa, ayah kandung anak ini penting fungsinya bagi dia. Karena itu, ini strategi yang saya ambil: Saya harus punya hubungan yang baik dengan mantan suami saya. Ini perlu pengorbanan, suatu langkah besar, karena banyak sekali tantangannya. Padahal ada maksud yang baik untuk tetap memfungsikan pentingnya ayah kandung. Kalau ayah kandung sudah meninggal, atau ada tapi tidak bisa hadir, maka coba diingat-ingat citra atau kenangan yang baik tentang suami atau ayah si anak. Kita ambil citra atau kenangan yang baik tersebut, untuk dijadikan teladan. Harus dihidupkan menjadi kebanggaan bagi si anak, supaya dia bisa mengerti bahwa ada figure ayah yang tidak terlepas dari dia.

Dalam diri si anak, ayah dan ibu tetap satu; walaupun dipisahkan dalam apapun juga, sekalipun maut, ayah dan ibunya tetap satu. Sekalipun ada suami atau istri yang baru, tetap hanya satu yang kandung. Yang membangun secara utuh jiwa seorang anak adalah ayah dan ibu kandung. Memang, Tuhan juga bisa mengirim orang lain untuk menjadi suami atau istri sambungan. Tetapi secara fisik, anak tersebut hanya berasal dari ayah dan ibu kandungnya. Dalam hal ini karena saya tidak menikah lagi, maka saya selalu menjadikan ayah kandungnya sebagai ayahnya.

2. Menyadari ketidakmampuan orangtua tunggal dalam diri saya untuk menjalankan seluruh fungsi pokok mantan suami saya.

Bagaimanapun juga Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dan menjadi suami istri. Kalau tiba-tiba suami saya pergi, saya tidak mungkin berubah jadi laki-laki. Padahal pria dan wanita itu mempunyai kodrat dan pembawaan sendiri-sendiri. Ini menjadi beban saya untuk dapat menolong anak saya memiliki pribadi yang utuh.

Strategi saya adalah meminta secara aktif Tuhan Yesus Kristus sebagai partner saya, hanya Tuhan, untuk menjalankan tugas pokok ini. Saya katakan secara aktif, terus menerus, karena memang yang aktif sekali menggantikan mantan suami saya adalah Dia. Saya pegang Yesaya 54:5 “Sebab yang menjadi suamimu adalah Dia yang menjadikan engkau, Tuhan semesta alam………” Tentu dalam pengertian di sini bukan fisikal suami, tetapi fungsi suami dalam pendidikan, fungsi ayah, inilah yang saya minta dari Tuhan. Sebagai contoh: setelah anak saya mulai menyadari bahwa ayahnya sudah tidak berfungsi lagi setiap hari, tentu ada kekecewaan-kekecewaan tertentu yang kemudian seringkali di-share-kan kepada saya. Tetapi saya katakan padanya, kamu punya Bapa di Sorga yang lebih hebat daripada papimu.

3. Menyadari kedaulatan Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala rumahtangga Kristen.

Rumahtangga saya rumahtangga Kristen. Jadi Tuhan Yesuslah yang berdaulat, karena itu secara aktif saya menjadikan Tuhan sebagai penasihat. Kalau saya mengalami benturan-benturan dalam mendidik anak saya, yang saya cari bukan Gramedia atau buku-buku pendidikan. Tidak, meskipun akhirnya saya menambahkan pengetahuan dari sana. Nomor satu, saya mencari Tuhan.

Ketika anak masuk menjadi remaja, itu tidak semudah mendidik anak yang masih kecil, yang masih bisa kita gandeng, atau kadang-kadang kita takuti. Bagaimana mendidik anak remaja seperti ini, apakah saya harus membiarkan petualangan anak saya ini dengan hati ketar-ketir. Tapi kalau saya larang, jangan-jangan dia jadi anak yang kerdil. Itu kan suatu pergumulan yang timbul dari orangtua tunggal. Tetapi ada Tuhan yang selalu menasehati saya. Karena nasehat itu dari Tuhan, saya tidak boleh takut.

4. Menyadari pentingnya pedoman yang benar untuk menjalankan tugas pokok orangtua.

Pedoman banyak. Nasehat orang juga pedoman. Buku-buku ilmu pengetahuan juga pedoman. Tetapi yang benar bagi saya adalah Alkitab. Karena itu, Firman Tuhan saya jadikan buku pintar yang utama dalam mendidik anak, membesarkan anak, mulai dari TK sampai kemudian masuk dalam dunia dewasa.

5. Menyadari bahwa orangtua tunggal menjadi contoh yang paling konkret bagi anak setiap hari.

Karena itu saya harus berusaha seoptimal mungkin untuk tunduk di bawah terang Firman Tuhan. Menjadi contoh yang benar, bukan hanya yang baik. Sukar sekali. Tetapi Firman Tuhan mempunyai banyak ajaran di sana.

Ini langkah-langkah yang saya atur sendiri agar sebagai orangtua tunggal, rumahtangga saya stabil. Kemudian ada langkah-langkah penunjang tugas pokok orangtua tunggal Kristen yang saya jalankan, yaitu:

1. Saya menerima kenyataan sebagai orangtua tunggal. Banyak orang yang jatuh ke dalam situasi seperti yang saya hadapi, dan sukar menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi orangtua tunggal. Sikap menerima ini bukan sesuatu yang begitu saja terjadi. Ada orang yang tetap menjadi orangtua tunggal tetapi protes terus. Protesnya bisa kepada Tuhan atau siapa saja yang dia bisa salahkan. Saya menghindari penyesalan akan masalah masa lalu dan tidak berkeluh kesah di depan anak. Saya percaya bahwa Tuhan Yesus tidak akan membiarkan kita sendiri. Itu penting dalam menjalani hidup dan menjalankan tugas sebagai orangtua. Ini yang saya alami dan tidak mudah.

2. Seperti saya katakan di awal, saya bukan sebagai korban tetapi saya menjadi pelaku. Karena itu, saya menerima dengan sadar fungsi sebagai orangtua tunggal sebagai panggilan mulia dari Tuhan. Sehingga saya menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, bukan kepada siapa-siapa tetapi kepada Tuhan.

3. Saya menerima tugas sebagai orangtua tunggal dengan penuh antusias demi masa depan yang baik bagi anak. Banyak orangtua tunggal yang tidak antusias, terseret-seret begitu saja menjalankan fungsi sebagai orangtua tunggal. Tidak ada kegembiraan, tidak ada sambutan terhadap panggilan ini. Karena itu saya menjaga keceriaan dan mengupayakan hal-hal yang bermanfaat bagi anak. Saya melengkapi diri sendiri dengan berbagai pengetahuan untuk kemajuan anak. Pengetahuan dalam arti bukan hanya pengetahuan ilmu saja. Banyak pengetahuan yang harus kita timba, baik dari Alkitab maupun juga dari teman-teman, tapi tujuannya satu yaitu untuk kemajuan anak.

Persoalan Mental dan Harga Diri

Kekuatan mental penting bagi orangtua tunggal, yaitu bahwa dirinya layak bagi Allah. Mungkin saya tidak layak bagi suami, karena itu saya dibuang. Tapi bagi Allah saya layak. Karena saya sudah diangkat oleh Allah, harga diri saya timbul, kegembiraan saya muncul. Saya memandang anak saya sangat berharga, lebih berharga daripada sebelumnya. Saya katakan di dalam hati, anak ini anugerah Allah, jangan sampai hancur; dia harus betul-betul menjadi seorang yang mempunyai harga diri juga.
Anak yang ditinggalkan oleh ayah bukan karena meninggal, terancam dengan masalah rendah diri. Dia, dengan ketidaktahuannya, apalagi masih usia 5 thn, tentu tidak tahu persoalan orangtuanya. Tapi dia bisa diejek-ejek oleh teman-temannya, termasuk anak saya, “Mamimu cerai ya sama papimu!” Meski dia tidak mengerti, tetapi karena teman-temannya berkata begitu, itu membuatnya kecil hati. Dia datang pada saya dan bertanya dengan nada sedih, “Ma, apa sih cerai? Emang mami cerai?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah harus bisa ditanggapi oleh kita sebagai orangtua. Saya pikir, “O, tidak. Ini tidak boleh berlanjut. Dia bisa berkembang menjadi anak yang rendah diri nantinya.” Tangan Tuhan yang sangat besar itu mengangkat harkat anak saya. Keistimewaan orangtua tunggal dalam menjalankan tugas pokok mendidik anak memang harus kita sambut dengan rasa syukur.
Sebagai orangtua tunggal kita harus mencukupi kebutuhan anak secara fisik, mental, spiritual, moral, dan material, agar anak hidup dan tampil layak. Hidup dan tampil layak jadi penting supaya dia tidak menjadi rendah diri. Karena itu saya berusaha keras mencukupi kebutuhannya, memberikan pakaian yang baik, yang layak, sepatu yang layak. Saya tidak mengatakan harus mahal. Tetapi setidak-tidaknya dia tampil gagah di antara teman-temannya. Jangan kita pikir karena hanya punya orangtua tunggal, anak kita paksa pakai baju yang jelek dan tampil dengan penuh keprihatinan. Jangan, anak tidak perlu tahu kesedihan yang kita dialami. Kita harus tampil gembira dan bersemangat.

Menemani anak bermain, belajar, jalan-jalan, adalah juga tugas orangtua tunggal. Kegembiraan dan kenyamanan anak harus terjaga. Waktu anak masih kecil, saya menemani dia main mobil-mobilan. Setelah remaja saya tetap temani, meski saya tidak ikuti. Waktu masih kelas 5 SD, anak saya minta izin naik sepeda ke Ancol. Rumah saya jauh di Rawamangun. Kalau ke Ancol harus melawati jalan yang cukup panjang dan mengerikan. Katanya, dia mau pergi dengan teman-temannya naik sepeda berombongan.
Waktu saya mendengar itu saya kaget. Tapi saya sembunyikan supaya anak merasa dia dapat dukungan. “O ya,” saya jawab sambil berpikir, “kamu mau pergi dengan siapa?”

“Ada ma, dengan teman-teman, naik sepeda,” jawabnya. Lalu saya tanya jalan yang akan ditempuh, saya bayangkan rute itu sambil dia terangkan arah jalannya. Karena dia bisa menerangkan, berarti dia paham jalan. Saya juga bisa membayangkan situasi lalu-lintas. Kemudian saya bisa memberikan saran kepada dia apa yang harus dilakukan jika kalau mendapat kesulitan.
Sebenarnya masalahnya, kita takut kalau anak itu mendapatkan kesulitan di tengah jalan dan tidak mendapat pertolongan yang tepat, apalagi kalau mendapat kecelakaan. Di sini saya tertantang. Sebenarnya saya ingin menemani dia, tetapi saya tidak punya sepeda. Apakah saya harus membeli sepeda hanya untuk acara itu? Lagipula anak saya bisa malu, sudah remaja masih diikuti Mamanya. Kalau saya larang, saya takut dinamikanya kurang, karena anak yang seusia ini punya rasa ingin tahu yang besar. Kalau dipatahkan, lain kali dia takut, dan itu ’merugikan’dia juga.

Akhirnya saya katakan, oke, kamu akan lewat jalan ini, ini, itu. Suasana di sini begini, di jalan itu begitu; ada kemungkinan ban sepeda kamu kempes. Bagaimana mengatasinya? Dia sadar juga dan bertanya kalau ban kempes gimana. Saya jawab, kamu harus bawa tongkat dan tali. Kalau ban bocor, kamu bonceng sepeda temanmu, lalu sepedamu diikat; tongkat itu akan berguna kalau kamu terjatuh, terperosok, dll.
Hati ingin menemani, tapi umur tidak bisa menemani. Saya apakai saran dan nasehat. Lalu pada saat dia mahasiswa, walau sudah tidak anak-anak lagi, tetapi masih terus saya amankan. Menjaga kegembiraan dan kenyamanan. Banyak orangtua tidak ikut mengamankan anak-anak mereka yang sudah mahasiswa akhirnya mereka terlibat narkoba. Tetapi harus tahu caranya mengamankan anak. Saya tidak mau mengamankan anak saya dengan terlalu banyak nasehat, merangkul, atau melarang dia.

Suatu kali dia katakan, “Ma, saya mau belajar karate.”
Untuk apa? Untuk self-defence, soalnya banyak tukang palak. Akan tetapi karena Firman Tuhan mengajarkan kasih, saya pikir apa tidak ada jalan lain selain pukul-pukulan. Karate bagus untuk olahraga. Tapi kalau untuk pukul tukang palak itu berarti ada korban. “Kamu selamat tapi kamu membuat orang lain menderita. Gimana kalau berusaha mengalahkan orang lain dengan kata-kata. Coba sekarang belajar bicara yang efektif, kena ke tujuan,” saya memberi pandangan.
Sejak itu dia belajar berkata-kata dengan efektif; tentu saja saya mengajari. Cara demikian terbukti aman. Pada suatu waktu dia mau kesekolah. Anak saya jalan dengan seorang teman yang ketrampilan karatenya sudah ban hitam. Di jalan tiba-tiba ada pemabuk sempoyongan. Temannya yang jago karate, karena takut terlambat ke sekolah, dia lari duluan. Anak saya teringat kata-kata saya untuk mengalahkan dengan kata-kata.

Orang mabuk itu minta uang. “O, uang ya bang, saya cuma punya seribu. Kalau abang mau, nih ambil.”
Pemabuk itu melihat kebaikan anak saya, dia merangkul dan mengatakan, “Kau anak yang baik.”
Anak saya menjawab, “Tapi tinggalin dong untuk saya naik angkot pulang sekolah.”
Orang mabuk itu memberi Rp200 kepada anak saya, lalu anak saya pergi sekolah. Saya merasa mendapat anugerah besar sekali. Anak saya tidak jadi menonjok orang itu karena dia tidak bisa karate. Tapi kata-katanya menyelamatkan dia, tidak membuat permusuhan. Sikap ini terus berkembang sampai sekarang.

Kita juga harus mendidik dan mengajar anak supaya dapat mandiri sebagai anak Tuhan yang benar dan baik. Ini kadang-kadang seperti idealistis. Tapi saya senang yang ideal seperti itu, meskipun saya sadar tidak tercapai 100%. Usaha saya harus optimal tapi saya harus sadar ada kelemahan-kelemahan, kekurangan, bahkan mungkin kegagalan. Hanya kalau gagal kita mencari jalan keluar lagi. Sebagai anak dari orangtua tunggal, anak kita perlu sekali dibekali atau dimotivasi untuk bisa mandiri. Sebab kita, terutama sebagai seorang ibu, sangat terbatas dan tidak bisa mengikuti dia terus. Tapi dia harus tampil sebagai pribadi yang gagah dan kuat. Kemandirian ini perlu sekali di dalam terang Tuhan.

Kesimpulan

Bersama dengan Tuhan menjadi orangtua tunggal bukanlah sesuatu yang sia-sia. Kita tidak pernah dikecewakan Tuhan. Kita masih tetap bisa gembira. Kegembiraan penting untuk mendidik dan membawa anak kita ke dunia dewasa di dalam terang Tuhan.

Sekarang anak saya sudah berusia 34 tahun, seorang insinyur dan S2 managemen. Ini pekerjaan Tuhan yang diproses dalam pendidikan orangtua tunggal. Dia melayani Tuhan, punya istri yang takut akan Tuhan. Saya punya cucu, usia 2tahun, laki-laki dan saya sangat gembira.

Sekarang saya harus bagaimana? Saya tetap menjalankan prinsip-prinsip asah, asih, asuh terhadap anak saya. Tapi tentu saja tidak sama dengan yang dulu. Artinya kalau dulu dia saya gandeng, setelah besar saya beri tongkat, setelah dia dewasa saya memberi nasehat secara lisan. Apalagi setelah saya menjadi orang yang sudah tua. Rumah kami berbeda. Saya sarankan dia mandiri setelah menikah, supaya dia juga menikmati menjadi orang dewasa penuh. Kalau saya ikuti terus, nanti si oma ini akan banyak nasehat yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan.

Dia perlu membangun rumahtangganya sendiri dengan istrinya. Tapi saya harus gembira dan mengamankan; artinya kalau diperlukan saya akan memberi nasehat. Kalau tidak diperlukan walaupun saya melihat ada bahaya, saya tetap minta nasehat bagi mereka, tapi bukan dari mulut saya, dari Tuhan. Misalnya saya melihat ada sesuatu yang seharusnya menjadi warning bagi mereka, tapi kalau saya berbicara nanti malah tidak baik, saya datang pada Tuhan, berdoa untuk lindungi anak saya. Nanti akhirnya akan ada telepon dari anak saya, katanya: Mami, puji Tuhan. Tuhan menolong saya, begini, begitu. Padahal itu juga hasil pergumulan saya, tetapi saya tidak mengatakan padanya bahwa saya bergumul, Tidak perlu dia tahu, karena yang penting ada jawaban yang luar biasa dan bukti bahwa Allah itu memang hidup. (*)

*) Tulisan ini dimuat di buku “Menjalani Kerikil-kerikil Rumah Tangga” yang diterbitkan oleh LK3.

Sumber : http://www.lk3web.info/readarticle.php?article_id=68

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: