“PENIPUAN” PSIKOLOGI OTAK TENGAH

“Teori otak tengah sudah jelas penipuan”

Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini
adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang
serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita
gampang sekali jadi sasaran penipuan. Inilah menurut saya yang paling
memprihatinkan dari maraknya kasus otak tengah ini.

Saturday, 18 September 2010

Di suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang
Lebaran,tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusus tentang psikologi
maaf. Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan
dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)yang
sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah(midbrain).
Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif yang
menarik di tengah tengah banjirnya (lebih parah dari banjir Pakistan)
artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari seputar Lebaran ini.

Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay
station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak
bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah)
dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu
kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan berkonsultasi dengan dokter.

Namun, yang jelas, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi
aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. Para
pakar ilmu syaraf(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California
dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat,
menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam
ukuran IQ tidak terpusat pada satu bagian tertentu dari otak, melainkan
merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak.

Makin bagus kinerja antar bagian- bagian otak itu, makin tinggi tingkat
kecerdasan seseorang (teori parieto-frontal integration). Di sisi lain,
pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang dinamakan amygdala, tak
ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu aspek kepribadian lain
seperti minat dan motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis)
dari jiwa, yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang
dicari pusatnya di otak.

Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini) masih banyak yang
percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada IQ-nya. Makin
tinggi IQ seseorang akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Itulah
sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas 120 untuk
bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak Howard Gardner
menemukan teori tentang multiple intelligence (1983) dan Daniel Goleman
memublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence (1995), maka para
pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ pada keberhasilan seseorang hanya
sekitar 20–30% saja.

Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha,
ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun begitu,
beberapa bulan terakhir ini, marak sekali kampanye tentang pelatihan otak
tengah.

Bahkan rekan saya psikolog psikolog muda ada yang bersemangat sekali
mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka
kepelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau dua
anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus.

Hasilnya adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna
dengan mata tertutup. Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka
pikir setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka
langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan
santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan
sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini.

Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk dua
hari kursus, orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak mereka
belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri), tidak usah
membayar guru les lagi (karena otomatis anak akan mengerti sendiri
pelajarannya), dan yang terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk
peringkat. Inilah yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang
sedang berkembang pesat akhir-akhir ini.

Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5 juta mungkin tidak ada
artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata dia tidak bisa memenuhi
harapan orang tuanya. Selain bisa menggambar dengan mata tertutup
(sebagian hanya berpura-pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup
mata dekat hidung), ternyata dia tidak bisa apa-apa.

Konsentrasi tetap payah, motivasi tetap rendah, dan emosi tetap
meledak-ledak tak terkendali. Pasalnya memang tidak ada hubungannya antara
otak tengah dengan faktor faktor kepribadian itu.

Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta
dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting, pakar otak tengah dari
Malaysia itu.

Kata Dr Ting, anak yang sudah ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi
makin pintar, tetapi jadi jenius. Karena itu nama perusahaannya juga
Genius Mind Corporation. Malah bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang
sudah terlatih otak tengahnya bisa melihat di balik dinding, bisa melihat
apa yang akan terjadi (seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa
mengobati orang sakit. Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan
Youtube-nya di internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka
KDRT pada anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti
atau dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiril
antaran tidak bisa melihat di balik tembok, meramal atau mengobati orang
sakit.***

Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David Ting di
Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David Ting dan
David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan pakar ilmu
syaraf, kedokteran, biologi, atau psikologi. Dia disebutkan sebagai pakar
pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf (neuroscience).

Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya mendapati beberapa versi
Youtube yang diulang-ulang saja, beberapa tulisan kesaksian, dan
cerita-cerita yang sulit diverifikasi kebenarannya. Saya pun lanjut dengan
menelusuri jurnal-jurnal ilmiah online, siapa tahu tulisan-tulisan
ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya belum pernah membacanya. Namun
hasilnya juga nol.

Maka saya makin tidak percaya.

Saya yakin bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah
pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa
diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak kiri
yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib orang
dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya, astrologi dan
palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-siapa karena hanya
dilakukan oleh yang mempercayainya atau sekadar iseng-iseng tanpa biaya
dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur, kalau salah yo wis.

Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu pernah juga populer
pelatihan otak kanak-otak kiri. Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah
gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah
pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya
“Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan
biaya (istilah mereka“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke
masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama
dua har iseorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan
bisa melihat di balik dinding seperti Superman.

Lagipula, apa hubungannya antara menggambar dengan mata tertutup dengan
jenius?

Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih
banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa
menggambar dengan mata tertutup.

Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya
sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan.

Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan.
Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali
jadi sasaran penipuan.

Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak
tengah ini.

(*)SARLITO WIRAWAN SARWONOGuru Besar Fakultas Psikologi UI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: